Showing posts with label Sirah. Show all posts
Showing posts with label Sirah. Show all posts

Kisah Saidina Umar Al-Farouq


Selamat menonton dan membaca video di atas. Moga menjadi ibrah dan peringatan buat kita semua.

Teladan Khulafa' Ar- Rasyidin


Pada masa Khulafa' Rasyidin, para sahabat Rasulullah saw dan para tabi'in berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan dan menolong orang yang teraniaya. Abu Bakar As-Siddiq radhiallahu'anhu dan Umar bin Khatab radhiallahu'anhu termasuk orang yang gigih berlomba-lomba dalam amal kebaikan yang mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak pahala di akhirat.

Saidina Abu Bakar r.a.

Peristiwa ini terjadi pada masa Abu Bakar Ash-Siddiq radhiallahu'anhu. Pada saat itu Umar mengamati apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, lalu dia melakukan dua kali lipatnya sehingga dia mendapatkan kebaikan dan mendahului Abu Bakar ke tingkat Surga tertinggi.
           Suatu hari Umar mengamati Abu Bakar As-Siddiq di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk itu.

Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar As-Siddiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.

Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapakan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar r.a.

Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku” Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku”
Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air mata, Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar”

Saidina Umar bin Khatab r.a.

Amirul Mukminin Umar bin Khatab r.a. menikahi Ummu Kultsum bin Ali r.a.. Suatu hari dia pergi dari rumah untuk mengetahui secara langsung keadaan rakyatnya. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang duduk dengan sedih dan gelisah di pintu masjid. Umar bertanya, “Ada apa denganmu?” laki-laki itu menjawab, “Istriku hampir melahirkan, tetapi kami tidak memiliki apapun dan tidak seorangpun bersamanya.”. Umar menanyakan rumahnya. Lalu dia menunjuk sebuah tenda di pinggiran kota Madinah. Umar pulang menemui istrinya, Ummu Kultsum seraya berkata, “Maukah kamu memperoleh kebaikan yang Allah antarkan kepadamu?” Istrinya bertanya, “Apa itu ya Amiirul Mukminin?” Umar menjelaskan, “Seorang wanita hampir melahirkan dan tidak ada yang menemaninya.” Istrinya menjawab, “Ya.”

Umar lalu mengambil tepung, mentega, dan susu kering. Dia berangkat, diikuti istrinya di belakangnya. Ketika sampai di tenda, Umar berteriak, “Wahai penghuni tenda.” Laki-laki itu keluar. Umar menyuruh istrinya masuk kepada wanita itu, sedangkan ia menyiapakn bejana dengan tepung, mentega dan susu kering. Umar meletakkannya di tungku. Dia meniup apinya dan mengaduk isinya. Apa yang ada di bejana belum juga masak, tetapi telah terdengar tangisan bayi dari dalam tenda yang diikuti suara Ummu Kultsum r.a., “Ya Amirul Mukminin, sampaikan berita gembira kepada temanmu, anaknya laki-laki.” Laki-laki itu terkejut. Dia berkata, “Kami telah merepotkan dan melelahkan Amirul Mukminin.”

Umar berkata, “Tidak apa-apa. Besok pagi datanglah kepada kami. Kami akan memberimu apa yang kamu perlukan untuk keluargamu.” Keesokan harinya laki-laki itu datang. Umar memberinya unta betina dan makanan yang memenuhi punggungnya. Laki-laki itu berbahagia dan berterimakasih kepada Amirul Mukminin r.a.. Begitulah orang besar mencetak sebuah keteladanan.

Dimbil dari “Mausu'ah Qishashis Salaf”, edisi bahasa Indonesia “Ensklopedia Kisah Generasi Salaf” karya Ahmad Salim Baduwailan, penerbit Elba

Tahan Lapar Hormat Tetamu

        Seorang telah datang menemui Rasulullah S.A.W dan telah menceritakan kepada baginda tentang kelaparan yang dialami olehnya. Kebetulan pada ketika itu baginda tidak mempunyai suatu apa makanan pun pada diri baginda mahupun di rumahnya sendiri untuk diberikan kepada orang itu. Baginda kemudian bertanya kepada para sahabat, "Adakah sesiapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tetamunya pada malam ini bagi pihak aku ?"

Seorang dari kaum Ansar telah menyahut, "Wahai Rasulullah S.A.W, saya sanggup melakukan seperti kehendak tuan itu."

Orang Ansar itu pun telah membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada isterinya seraya berkata, "Lihatlah bahawa orang ini ialah tetamu Rasulullah S.A.W. Kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan mengikut segala kesanggupan yang ada pada diri kita dan semasa melakukan demikian janganlah kita tinggalkan sesuatu makanan pun yang ada di rumah kita."

Lalu isterinya menjawab, "Demi Allah! Sebenarnya daku tidak ada menyimpan sebarang makanan pun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita di rumah ini ?"

Orang Ansar itu pun berkata, "Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbual-bual dengan tetamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami mulai makan engkau padamlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidak akan ketahui bahawa saya tidak makan bersama-samanya."

Rancangan itu telah berjalan dengan lancarnya dan seluruh keluarga tersebut termasuk kanak-kanak itu sendiri terpaksa menahan lapar semata-mata untuk membolehkan tetamu itu makan sehingga berasa kenyang. Berikutan dengan peristiwa itu, Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud, "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan." (Al-Hasyr : 9)

WANITA YANG SABAR DAN BERTAKWA


Di dalam sirah perjalanan dakwah Rasulullah, baginda bangkit menyampaikan risalah Rabbnya tanpa mengendahkan sebarang cubaan, tekanan, penyeksaan, cacian, perlecehan, dan pendustaan yang dilakukan oleh kaum yang memusuhi baginda. Saidatina Fatimah menyaksikan segala bentuk kesulitan yang dihadapi oleh Rasulullah, malahan beliaulah yang mengubati kesedihan dan menghiburkan hati ayahnya saat berhadapan dengan kejahilan kaum musyrikin ketika itu.

Salah satu peristiwa yang kekal di dalam ingatan puteri Rasulullah ini ialah apabila menyaksikan penghinaan dari salah seorang Quraisy yang kasar dan sangat buruk tingkahlakunya, Uqbah bin Abu Mu’aith. Si jahil ini menawarkan diri untuk melemparkan kotoran isi perut unta ke belakang tubuh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ketika baginda sedang sujud, sehingga baginda tidak mampu untuk bangkit dari sujudnya. Saidatina Fatimah segera mendatangi ayahnya untumembersihkan kotoran tersebut, sebelum menghampiri kelompok musyrikin yang merancang perbuatan keji itu . Dengan lantang dan penuh berani, beliau mencaci dan mencela tindakan mereka yang sangat tidak beradab. Seusai solat tersebut, Rasulullah menadahkan tangan baginda dan berdoa bagi kecelakaan mereka, dengan bersabda, “Ya Allah, ada kewajipan atas Engkau untuk mencelakakan Syaibah bin Rabi’ah. Ya Allah, ada kewajipan atas Engkau untuk mencelakakan Abu Jahl bin Hasyim. Ya Allah, ada kewajipan atas Engkau untuk mencelakakan Uqbah bin Abu Mu’aith. Ya Allah, ada kewajipan untuk Engkau mencelakakan Umayyah bin Khalaf”.

Doa baginda Sallallahu Alaihi Wasallam dikabulkan Allah Subhanahu wa Taala. Nama-nama kaum musyrikin yang disebutkan di dalam doa tersebut terbunuh semasa Perang Badar.Kehidupan puteri Rasulullah ini juga tidak lari dari penderitaan akibat perbuatan kejam kaum musyrikin yang membenci dakwah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam . Salah satunya ialah ujian pemboikotan ke atas seluruh kaum Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib di mana orang-orang Musyrik menemukan kata sepakat untuk melancarkan boikot secara total terhadap mereka. Tidak ada urusan jual beli, tidak ada pembicaraan, tidak ada pergaulan, sehinggalah Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib menyerahkan Rasulullah kepada orang-orang Quraisy. Akibatnya, seluruh kerabat Rasulullah kecuali Abu Lahab dipulaukan dan dikepung di perkampungan Abu Thalib. Sepanjang tempoh hampir tiga tahun itu, seringkali kedengaran tangisan anak-anak kecil dan rintihan para wanita lantaran kelaparan. Natijah dari peristiwa ini juga, kesihatan Saidatina Khadijah Radiallahu anha merosot dan berlanjutan sehinggalah beliau kembali bertemu dengan Rabbnya.Kesan terbesar dari episod pemulauan tersebut ialah pemergian Saidatina Khadijah Radiallahu anha. Dengan kehilangan tersebut, Fatimah lah yang memikul beban kehidupan dan berkongsi penderitaan berat yang dialami oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Walaubagaimanapun, hal tersebut malah menambahkan keimanan dan ketaqwaan dirinya serta membuatkan beliau semakin dekat dengan ayahnya. Saidatina Fatimah Az-Zahra juga termasuk di antara wanita yang berhijrah. Di Madinah, beliau membuka lembaran baru kehidupan dikelilingi kaum yang murah hati, yang mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka serta melebihkan kaum Muhajirin lebih dari diri mereka sendiri. 

Indahnya Akhlak Kekasih Allah!

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.

Saidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu lansung bertanya setelah selesai bersolat, “ Ya Rasulullah, kami melihat seolah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah Ya Rasulullah?” “Tidak, Ya Umar. Alhamdulillah, aku sihat dan segar.” “Ya Rasulullah, mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah sendi bergeselan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit.” Desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya, para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti dengan sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak mempunyai makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?” Lalu baginda menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, engkau akan korbankan segala-galanya demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan Allah nanti apabila aku sebagai pemimpin menjadi beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku agar umatku kelak tiada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di akhirat kelak.”

PERISTIWA ISRAK DAN MIKRAJ


Israk dan Mikraj merupakan satu peristiwa agung yang berlaku pada 27 Rejab, iaitu setahun sebelum penghijrahan Nabi ke Madinah. Peristiwa ini menguji kebenaran Rasulullah S.A.W. dan keimanan umat Islam. Rasulullah S.A.W. dibawa oleh Malaikat Jibrail dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian dari situ terus dibawa hingga ke Sidratul Muntaha mengadap ke hadrat Allah S.W.T.. Semuanya berlaku pada satu malam sahaja. Firman Allah S.W.T.: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al Israa' : 1).

Peristiwa bersejarah itu diabadikan dalam al-Quran mengandungi hikmah amat besar, menunjukkan kekuasaan Allah mencipta alam ini dan membenarkan lagi kerasulan Muhammad S.A.W.. Ia peristiwa sangat luar biasa, mencabar pemikiran manusia seisi alam kerana berlaku di luar pencapaian pancaindera biasa manusia, namun bagi golongan beriman tetap yakin dengannya kerana ia bukti kuasa Allah. Para ulama mencapai kata sepakat sesiapa yang meragui atau tidak mempercayai peristiwa Israk dan Mikraj hukumnya adalah kafir! Na’uzubillah.

Peristiwa agung ini merupakan hadiah daripada Allah kepada Rasulullah Habibullah dan umat baginda. Perkara ini berkait rapat dengan kefarduan solat lima waktu yang kita kerjakan. Ibadat solat adalah ibadat yang paling ‘special’ kerana nabi menerima ibadah tersebut secara langsung daripada Allah, bukannya melalui wahyu. Hal ini telah menunjukkan ibadah solat berbeza dengan ibadah-ibadat yang lain seperti puasa, zakat dan haji. Allahu akbar! Betapa besarnya kurniaan-Mu kepada umat akhir zaman. Jikalau kita lihat masyarakat kini mengambil mudah soal solat. Meninggalkan solat sesuka hati dan tidak menjaga tatatertib dalam solat. Apakah mereka tidak sayangkan Rasulullah? Baginda sanggup bersusah payah demi kesejahteraan umatnya, mencari sesuatu yang boleh menguntungkan kita dan sanggup merayu kepada Allah agar dikurangkan waktu solat daripada 50 waktu kepada lima waktu sahaja. Segala-galanya demi kesenangan umatnya.

Mari kita singkap kembali peristiwa Israk Mikraj ini. Sebelum Nabi Israk dan Mikraj, telah berlaku peristiwa Rasulullah S.A.W. mengalami pembedahan dada yang dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Mikail. Hati Baginda S.A.W. dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam ('alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan waswasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu, dan iman ke dalam dada Rasulullah S.A.W.. Setelah itu, dadanya dijahit dan dimeterikan dengan "khatimin nubuwwah". Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam menerus-kan perjalanan luar biasa itu.

Sepanjang perjalanan (Israk) itu, daripada Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, Rasulullah S.A.W. ditemani oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersembahyang sebanyak dua rakaat. Antara tempat-tempat berkenaan ialah:
i. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah.
ii. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A.S. menerima wahyu daripada Allah.
iii. Baitul-Laham (tempat Nabi 'Isa A.S. dilahirkan).
iv. Madyan

Setelah itu, Nabi Muhammad meneruskan perjalanannya. Sepanjang perjalanan itu, baginda Rasulullah S.A.W. menghadapi gangguan jin 'Afrit dan dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib seperti menyaksikan golongan yang sedang menanam dan terus menuaikan hasilnya, melintasi kubur Masyitah (tukang sikat anak Firaun) yang berbau wangi dan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun dari Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat bersama segala anbia` dan mursalin menjadi makmum. Rasulullah S.A.W. terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: “Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.”

Selasai sahaja perjalanan Israk, Nabi meneruskannya (Mikraj) dan naik ke Hadhratul-Qudus untuk menemui Allah. Rasulullah S.A.W. dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah). Baginda dinaikkan ke beberapa lapisan langit bertemu dengan kalangan nabi dan rasul, termasuk Nabi Isa, Nabi Musa dan Nabi Ibrahim yang sedang bersandar di Baitul-Ma'mur. Apabila sampai sahaja di Hadhratul-Qudus dan Rabbul-Arbab Rasulullah dapat menyaksikan Allah S.W.T., lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Nabi Muhammad (boleh dibaca dalam blog BAKDIS). Selesai munajat, Rasulullah S.A.W. dibawa menemui Nabi Ibrahim A.S. kemudian Nabi Musa A.S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah S.A.W. merayu kepada Allah S.W.T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah perkenan memfardukan sembahyang lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.

Rasulullah S.A.W. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Akhirnya, baginda menceritakan peristiwa tersebut kepada umatnya dan orang yang pertama mempercayainya ialah Saidina Abu Bakar As-Siddiq.

Peristiwa Israk dan Mikraj bukan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali pada setiap kali 27 Rejab menjelang. Adalah lebih penting untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Israk dan Mikraj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah dan takut kepada kekuasaan-Nya. Wallahua’lam.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...